Posts for Lain-Lain Category

Meningkatkan Daya Saing

Lain-Lain - andikamulyana - April 23, 2018

Anda mungkin kenal nama yang satu ini, “ Ray Dalio”. Founder dari Bridgewater, pengelola dana terbesar di dunia. Client mereka adalah para raksasa yang bukan lagi cuma sangat kaya, namun ultra rich.

 

Pertanyaannya, kenapa mereka mau invest bersama Bridgewater?

Apa yang membedakan Bridgewater dengan yang lain?

Satu hal yang paling membedakan adalah ilmu! Bridgewater adalah gudang ilmu.

 

Dulu, Mc Donald’s ingin mengeluarkan sebuah produk McNugget. Namun mereka gak bisa menjual produk ini, karena harga ayam naik turun. Kalau harga ayam naik, profit margin bisa ’tercekik’. Lane Processing adalah produsen ayam. Mereka gak mau menjual ayam dengan harga fix price ke Mc Donald’s. Karena mereka juga takut bahwa cost mereka akan naik.

 

Lalu siapa yang bisa menangani masalah ini? Ray Dalio, sang founder Bridgewater. Yang dari dulu sangat senang mengamati komoditas. Karena komoditas itu jelas hubungannya.

 

Beliau mengamati, bahwa yang namanya bisnis ayam itu mekanismenya simpel. Cuma ayam dan makanannya. Cost yang mungkin naik turun adalah makanan ayam. Maka Ray Dalio mengajarkan bagaimana mencampurkan jagung & bahan lain, sehingga cost mereka bisa menjadi tetap. Saat cost tetap, maka harga jual bisa menjadi tetap.

 

Kalau bisnis Lane & Mc Donald’s makin besar, maka uang yang diinvestasikan ke Bridgewater juga makin besar.

 

Kenapa Ray Dalio bisa menjadi terbesar dan terbaik di dunia?

 

Karena dia sangat rajin belajar. Sejak muda, sangat banyak yang menelpon beliau dan minta solusi. Maka untuk menghemat waktu, beliau menuliskan ilmunya. Menuliskan apa yang beliau pelajari. Lewat tulisannya, beliau memaksa dirinya untuk melakukan riset & refleksi tiap hari.

 

Pelajaran beliau juga menjadi kunci dalam channel of communication untuk bisnis mereka. Sampai saat ini, sudah lebih dari 40 tahun dan puluhan ribu tulisan yang diterbitkan. Daily Observations mereka dibaca, direnungkan & didebat oleh para client dan pembuat aturan di seluruh dunia.

 

Sampai hari ini, Ray Dalio masih menulis, bersama-sama dengan teman-teman di Bridgewater. Beliau punya komitmen akan terus menulis sampai orang gak mau lagi membaca atau beliau meninggal dunia.

 

Pantas saja beliau menjadi yang terbaik di dunia

Continue Reading

Menyelesaikan Masalah Pelanggan

Lain-Lain - andikamulyana - April 23, 2018

Setiap dari pemilik bisnis akan terus berinovasi dan menciptakan produk terbaru untuk pasar mereka. Dengan tidak lain tujuan mereka adalah mencapai sebuah keuntungan dalam proses penjualan produk mereka. Tidak ada yang ingin jika bisnisnya tidak menghasilkan keuntungan apapun, terlebih setelah memiliki ide bagus dan menciptakan produk terbaik. Mereka pasti ingin pasar menyukai produk yang mereka jual. Tapi diluar itu, sebenanrya semua pemilik bisnis harus mampu memberikan solusi untuk setiap masalah pelanggan yang mencari produk mereka

 

Dalam banyak kasus, memecahkan masalah pelanggan yang efektif menjadi hal yang sangat sulit karena kamu perlu melakukan manuver antara kebijakan perusahaan dan kepentingan pelanggan. Namun ada beberapa hal yang terkadang membutuhkan fleksibilitas.Kita mesti sadar bahwa customer hanya akan datang ke kita, ketika mereka punya masalah.

 

Apapun produk yang anda jual, hanya akan laku kalau produk tersebut menyelesaikan masalah customer.

 

Entah produk anda paket liburan, meja tulis, pijit kesehatan, air minum; semuanya hanya akan dibeli kalau bisa menyelesaikan masalah customer.

 

Coba perhatikan, bahkan narkobapun dikonsumsi karena bisa menyelesaikan masalah customer. Walaupun cuma sementara.

 

Maka tugas anda simpel. Anda gak boleh jualan barang. Anda mesti membantu customer menyelesaikan masalah dia.

 

Sudut pandangnya mesti diubah. Bukan, “ Gua punya barang nih, loe mau beli gak?”. Namun, “ Apa masalah loe? Sini gua bantu selesaikan, mungkin produk gua bisa membantu menyelesaikan masalah loe. Kalaupun gak selesai semua, ya selesai sebagianlah.

Maka kata-kata dari yang keluar dari mulut sales gak boleh tentang produk dan spec dari produk. Karena produk dan spec produk gak menyelesaikan masalah customer. Yang muncul malah masalah baru, yaitu customer harus menghubungkan antara spec produk dengan masalah dia.

 

Dia akan bertanya-tanya, “ Apakah rem ABS, kecepatan 0-100km dlm 6 detik akan bisa menyelesaikan masalah dia?

 

Kata-kata yang mesti keluar adalah, “ Apa masalah bapak / ibu? Ceritalah ke saya. Saya bantu selesaikan.

 

Nanti tugas anda adalah menghubungkan antara spec tersebut sama masalah customer. Misalnya, “ Bu, ibu kan mau pakai mobilnya untuk jemput anak sekolah. Kalau pas hujan, itu bahaya lho. Untunglah rem kita ABS. Sehingga saat hujan / berhenti mendadak, anak-anak tetap aman.

 

Sekali lagi, tugas anda simpel, yaitu memastikan masalah customer selesai!

 

Kalau perlu, anda kasih pinjam dulu produknya, kasih jaminan, suruh pakai dulu, baru setelah itu bayar. Jangan jual produknya, kasih jaminan bahwa masalahnya akan selesai.

Continue Reading

mengubah presepsi kegagalan

Lain-Lain - andikamulyana - April 22, 2018

Beberapa waktu yang lalu saya ada post tentang SpaceX. Tentang betapa banyak roket yang mereka hancurkan.

 

Bahkan saat SpaceX baru dimulai, Elon Musk sudah ngomong dengan jelas, bahwa bisnis roket itu sangat amat mahal. Mereka hanya punya dana untuk 3 kali peluncuran. Kalau sampai 3 kali gagal, habislah mereka.

 

Ternyata benar saja, di peluncuran pertama mereka gagal. Seolah tidak belajar dari kesalahan pertama, mereka kembali gagal di peluncuran kedua. Padahal Elon Musk tidak meminta mereka untuk menciptakan teknologi baru. Pada dasarnya, yang mereka lakukan hanyalah menyontek teknologi NASA yang sudah diciptakan dulu. Namun mereka membuatnya lebih efisien dan hemat. Itu saja.

 

Dua kali gagal tentu saja membuat deg-degan. Mereka pucat pasi separoh mati di peluncuran ketiga. Kalau itu gagal, maka habislah mereka semua. SpaceX dan seluruh karyawannya akan tidak punya pekerjaan lagi. Artinya investasi pribadi Elon Musk menjadi kembang api yang sangat mahal.

 

Peluncuran ketiga dimulai. 300 orang harap-harap cemas. Mereka sudah kerja sampai 80 jam seminggu. Kalau mereka kerja 6 hari, artinya mereka kerja 14 jam sehari. Kalau mereka kerja seminggu tanpa lembur, maka artinya tiap hari mereka kerja 12 jam.

 

Mereka sungguh kecapekan. Sudah 6 tahun mereka kerja keras penuh pengorbanan.

 

Peluncuran ketiga ternyata luar biasa. Roket “Falcon 1” itu hancur menabrak dirinya sendiri. Roket pendorong bagian pertama harusnya jatuh lepas ke bumi, ternyata dia tiba-tiba hidup dan kembali terbang, langsung menabrak roket kedua. Kedua bagian itu langsung hancur pecah masuk ke Samudra Pasifik.

 

Layar monitor tiba-tiba jadi hitam total.. tidak ada gambar…. 300 orang cemas…. darah mereka serasa habis. Dari yang tadinya gugup, jadi depresi total. Kerja bertahun-tahun pecah berantakan begitu saja. Suasana jadi seperti kuburan.

 

Tidak lama kemudian Elon Musk masuk membuka pintu. Dia menerobos para wartawan dan berjalan langsung ke timnya. Pria yang biasanya gugup dan bicara terbata-bata itu, kali itu berbicara dengan lantang dan jelas.

 

“ Kita tau bahwa ini akan sulit. It’s rocket science. Banyak negara yang bahkan tidak sampai ke tahap ini, walaupun mereka sudah berusaha keras.

 

Lalu muncullah kejutannya, “ Peluncuran ketiga ini bukanlah pelucuran terakhir SpaceX.

 

“ Bulan ini, saya berhasil mendapatkan investasi dari 2 orang teman lama saya di PayPal. Kita akan mempelajari apa yang salah dengan peluncuran ini, dan kita akan pakai pengetahuan ini untuk membangun roket berikutnya. Dan roket-roket berikutnya itu, suatu hari nanti akan mewujudkan cita-cita kita. Dia akan membawa manusia sampai ke Mars

 

“ Saya pribadi… saya tidak akan menyerah. Tidak akan!

 

Seketika itu juga mood berubah. Dari putus asa jadi bahagia. Dari penuh kesedihan dan frustasi jadi penuh harapan. Mereka bersorak dan berteriak. Air mata mengalir di mata mereka.

 

Elon Musk baru saja mengubah kegagalan menjadi feedback.

 

Dia bagaikan seorang dokter yang memegang defribrillator di dada pasien dan berkata, “ Jangan mati!”

 

Elon tidak percaya pada kegagalan. Inilah yang membuatnya spesial.

 

Ternyata memang perbaikan rooket itu gampang. Biasanya bagi NASA butuh 6 bulan untuk menemukan apa yang terjadi. Lalu butuh sekitar setahun sebelum bisa dapat izin terbang lagi.

 

Namun SpaceX bisa melakukan peluncuran lagi  hanya dalam waktu 5 minggu. Tanggal 28 September 2008, roket mereka yang berikutnya terbang sempurna. Mereka menjadi perusahaan swasta pertama yang bisa menerbangkan roket sampai ke luar angkasa, dan sampai hari ini mereka sudah menerbangkan lebih banyak roket dibandingkan seluruh negara di dunia. Bahkan kalaupun jumlah roket seluruh dunia digabung, masih tidak bisa menyaingi SpaceX.

 

Tidak sampai 3 bulan kemudian, di Desember 2008, Elon Musk mendapatkan kontrak $1.6 milyar.

 

Karyawan anda….. pasti berbuat salah. Pembantu anda pasti berbuat salah. Kadang kesalahan itu besar, kadang kesalahan itu sepele. Namun kalau anda memarahi mereka dan tidak mengizinkan mereka untuk salah, mereka tidak akan pernah berkembang.

 

Mari kita jujur, jangankan mereka, bahkan kitapun bisa salah di tempat yang sama berkali-kali. Bahkan sering kali hidup kita stuck di masa sekarang. Kita tidak maju-maju. Kalau kita bisa bertahan di tempat yang sama bertahun-tahun, melakukan kesalahan yang sama….. adilkah bila kita memarahi tim habis-habisan?

 

Jangan tunjukkan kesalahan mereka. Tunjukkan jalan yang benar. Jadilah inspirasi bagi mereka. Ubah kesalahan mereka jadi kemenangan. Karena itulah tugas anda sebagai Leader.

 

Anda siap?

Continue Reading

bagaimana menghadapi kegagalan

Lain-Lain - andikamulyana - April 22, 2018

 

Menarik sekali ketika kemaren saya nonton Bloomberg Risk Takers. Kisah yang ditayangkan adalah tentang Elon musk. Sebagian dari anda mungkin tau bahwa Elon Musk baru saja meluncurkan test flight Falcon Heavy. Lewat pesawatnya, dia juga sekaligus meluncurkan mobil Tesla Roadster ke luar angkasa.

 

Sebelumnya, Elon Musk meluncurkan mobil Tesla Semi. Sebuah mobil penarik trailer dengan spec yang luar biasa.

 

Taukah anda, bahwa Elon Musk punya 3 buah perusahaan besar:

  • Tesla: mobil listrik
  • SpaceX: pesawat luar angkasa
  • Solar city: panel tenaga surya

Saya bahkan baru tau bahwa mobil Tesla, ternyata punya self driving capability, alias bisa nyetir sendiri. Mereka bahkan sudah memulainya sejak tahun 2014. Fitur ini dimulai dengan “Summon”. Yaitu mobil yang sedang parkir di garasi, bisa dipanggil untuk keluar sendiri. Tinggal sentuh layar HP, dan mobil akan otomatis menjemput anda.

 

Anda tinggal naik dan duduk di kursi supir. Kenapa perlu duduk di kursi supir, karena masih banyak aturan yang melarang mobil berjalan tanpa supir. Jadi anda tetap perlu duduk, namun mobilnya yang nyetir sendiri. Nantinya mobil akan menunggu perintah anda, namun bila tidak ada perintah, mobil akan langsung nyetir ke tempat yang sudah ada di kalender anda hari itu.

 

Mobil bisa otomatis memotong mobil lain, keluar masuk tol, makin lambat dan makin cepat. Bahkan fitur ini di-claim jauh lebih aman dibandingkan dengan menyetir sendiri. Tentu saja apalagi kalau pengemudinya mabuk, atau sedang menuju ke luar kota. Mobil Tesla punya lampu depan yang bisa ikut berbelok saat kita mau belok.

 

 

 

 

Kenapa fitur self driving Tesla dianggap lebih aman, karena dia punya kamera yang bisa melihat sangat jauh.

 

 

 

Nantinya, saat sudah sampai di tujuan, anda cukup keluar mobil, dan mobil akan parkir sendiri. Dia bisa parkir di tempat yang sempit, menghindari objek secara otomatis.

 

Saat mau pulang, tinggal “Summon” mobil. Dia akan datang sendiri sekali lagi ke tempat anda. Luar biasa!

 

Ada begitu banyak kecanggihan dari produk-produk Elon Musk. Namun taukah anda, bahwa beberapa kali Tesla hampir bangkrut.

Elon Musk harus melakukan funding dengan uangnya sendiri sampai beberapa kali. Tidak ada yang percaya dengan visinya.

 

Pernah suatu ketika, “nyawa” Tesla tinggal beberapa minggu. Setelah itu, tidak ada lagi uang untuk menjalankan perusahaan. Elon Musk sengaja terbang ke Jerman – Pabrik Mercedes Benz, untuk mencari dana. Tentu saja mereka tidak segampang itu percaya dengan teknologi Tesla. Maka Tesla diminta untuk memasukkan mesin listrik mereka ke dalam mobil smart milik Benz. Semua harus diatur ulang di dalam mobil yang sangat sempit itu, baterainya, mesinnya, dll. Semua harus berjalan lancar dan optimal.

 

Tentu saja tidak gampang, karena harus meletakkan semua teknologi yang sudah jadi di mobil yang dirancang untuk bensin. Lagipula, semua harus dilakukan dalam waktu 4 minggu.

 

Elon Musk punya sejuta alasan untuk gagal. Bercerai 2 kali, ketiga perusahaannya sedang hancur-hancuran, peluncuran roket luar angkasa 3 kali gagal semua, krisis ekonomi 2008, tidak ada investor yang percaya, dll.

 

Namun dia memilih untuk melewati itu semua. Kalau hari ini dia bisa panen kesuksesan, itu karena dia mau melewati semua kegagalan itu.

 

Kalau kita sekarang belum sukses, mungkin kita belum cukup mau untuk gagal lebih banyak.

Continue Reading

berhenti bersaing

Lain-Lain - andikamulyana - April 21, 2018

Beberapa waktu yang lalu saya jalan-jalan ke acara pameran buku terbesar yaitu Big bad wolf. Ternyata di sana sedang ada pameran. Nah, ada produk menarik di sana. Sebuah kue lapis legit prune seharga 400.000. Saya suka dengan lapis legit, tapi kalau 400.000 kok rasanya pahit yah. Walaupun memang itu harga normalnya.

 

Saya coba cari kue yang sama di Toped, harganya 280.000 dan full pakai mentega wisman. Ada review kurang lebih begini, “Enak, lezat, berminyak dan gurih.” Asem tenan!

 

Yang namanya kompetisi itu baik. Namun kompetisi sekarang itu beda dengan dulu. Kalau sekarang kita masuk ke Metro atau Marks & Spencer atau sejenisnya, dan merk tokonya ditutup, kita gak akan tau bahwa kita sekarang sedang di mana. Persaingannya sudah sampai ke level di mana hampir semuanya sama.

 

Kalau kita cuma bertahan saja, pasti pada akhirnya kebobolan juga.

 

Yang namanya kompetisi masih berjalan sehat kalau permintaan pasar masih lebih besar daripada yang bisa kita supply. Namun kalau pasar sudah gak bisa menyerap lagi, maka kompetisi pasti berdarah. Supaya produk kita bisa laku, produk orang lain harus gak laku. Maka persaingan jadi sengit.

 

Kalau sudah begini, maka para pedagang kecil akan nanya, “Bagaimana cara kita mau melawan raksasa?

 

Ya jawabannya memang, “Gak usah bersaing.” Cari tempat lain. Jawab kebutuhan customer dengan lebih baik. Buka market yang baru. Kenapa mesti lawan Goliath kalau bisa gak usah melawan? Begitu banyak perusahaan kecil menjadi raksasa. Coba perhatikan pola mereka. Mereka bukan bersaing head to head. Mereka menciptakan market baru. Mereka menjadi standard yang baru.

 

Bahkan Bluebird-pun dulu membuat sebuah standard yang baru, berbeda dari taxi yang lain. Apple mulai dari kondisi hancur-hancuran, mereka membuat produk baru. Begitu pula dengan AirBNB, tokopedia, dll.

 

Bagaimana dengan anda? Masih mau bersaing tarik-tarikan customer dengan pengusaha lain? Kalau anda mau menciptakan market baru, bisa jadi anda adalah pebisnis besar berikutnya. Setuju?

Continue Reading

mengapa memiliki energi itu penting

Lain-Lain - andikamulyana - April 21, 2018

Setiap orang pasti ingin selalu semangat setiap hari. Terkadang ada saja rasa sedih, kecewa, marah dan pikiran negatif lainnya yang datang secara tiba-tiba yang dapat mengganggu aktivitas kita.

 

Karena mungkin Anda pernah  mendengar kata-kata “The best motivator is yourself” (Motivator terbaik adalah diri anda sendiri). Kita tahu bahwa agar tetap termotivasi dibutuhkan sebuah perjuangan.

 

Dalam realita hidup ini tidak bisa kita pungkiri bahwa setiap hari otak kita selalu diserang oleh pikiran negatif, apakah itu berupa kekhawatiran akan masa depan, penyesalan di masa lalu, dsb. Yah, setiap orang tanpa kecuali pasti pernah dihadapkan dengan berbagai persolan dan permasalahan dalam hidupnya, oleh karena itu perlu sekali agar kita bisa melatih dan menyemangati diri kita sendiri agar kita tetap semangat dan tidak terjatuh dalam pikiran negatif, yang justru jika dibiarkan akan lebih memperburuk keadaan yang sedang terjadi.

 

pada dasarnya setiap manusia itu diciptakan sama oleh Tuhan, yang membedakannya cuma dari cara kita berfikir, cara kita memandang sebuah persoalan, jika kita memiliki mental seorang juara/pemenang, maka kita akan bisa terus maju. Tetapi jika kita mempunyai mental “tempe” maka kita akan menjadi seorang pecundang. Lalu muncul pertanyaan “Bagaimana caranya agar kita tetap termotivasi dan selalu semangat dalam menjalani hidup ini?”.

 

Kita sering kali melihat orang yang cemberut dan pemarah. Sering kali juga kita melihat orang yang bawaannya stress dan lemes.

 

Jarang kita melihat ada orang yang selalu berenergi dan semangat.

 

Kenapa?

 

Karena kita melatih diri kita untuk bisa seperti itu. Kita mengkondisikan diri kita untuk bisa seperti itu terus-menerus. Kita terus-menerus membiarkan badan membungkuk. Terus-menerus membiarkan diri kita untuk fokus pada hal yang negatif. Terus-menerus mengatakan kata-kata yang malah membuat diri kita sakit hati.

 

Jarang kita mendapatkan suasana yang penuh kegembiraan. Yang terus-menerus membiarkan kita gembira dan penuh semangat.

 

Bahkan coba perhatikan, apa kata orang lain kalau melihat kita senyum-senyum dan terus gembira? Kita dibilang gila!

 

Namun apapun yang kita berikan energi terus-menerus akan menjadi identitas. Kalau kita terus-menerus melatih otot, maka otot akan semakin jadi.

 

Kalau kita terus-menerus bahagia, maka kita akan terus jadi orang yang bahagia. Kalau kita terus-menerus semangat, kita akan menjadi orang yang penuh semangat!

 

Apapun yang kita latih terus-menerus, akan jadi!

 

 

Terus dikondisikan untuk happy, semangat dan ceria!

 

Saat kita sedang happy, kita juga diminta untuk mengambil keputusan. Kenapa? Karena dalam hidup kita jarang bisa mengambil keputusan. Kita takut gak bisa menjalaninya. Mau memutuskan untuk langsing, hidup lebih baik, dll…. kita gak bisa memutuskan.

 

Namun saat kita sedang berada dalam peak state, atau situasi di mana anda sedang sangat happy, anda bisa memutuskan! You can be decisive!

 

Itu makanya energi itu penting. Sangat penting. Tidak perduli berapapun umur anda, anda harus punya energi anak muda!

Continue Reading

cara praktis meningkatkan kekayaan

Lain-Lain - andikamulyana - April 20, 2018

 

Mungkin pernah mengalami: bingung meningkatkan kekayaan

Coba praktekkan: pakai IPO

 

Saya suka saat membuat struktur. Bagi saya, saat ada struktur, maka sesuatu jauh lebih gampang dipahami. Setelah belajari dari beberapa guru, saya mulai menemukan struktur dalam keuangan.

 

Uang itu pada dasarnya hanya IPO (Input – Process – Outcome)

Dari ketiga proses ini kita bisa membagi apa strategi dari masing-masing.

 

Mari kita mulai dari Outcome, atau uang keluar.

 

OUTCOME

Pada dasarnya, banyak dari kita yang bahkan gak tau berapa pengeluaran rutin kita per bulan. Saat gak tau berapa pengeluaran per bulan, maka kita gak bisa merancang income.

 

Bagaimana kita tau berapa income yang harus kita hasilkan, kalau gak tau pengeluarannya. Berdasarkan pengeluaran tersebut, kita pilih income yang cocok.

 

Tentu saja untuk outcome juga ada tingkatannya. Misalnya:

  • Sekedar hidup: 7jt / bln
  • Hidup agak enak: 10jt / bln
  • Hidup mewah: 15jt /bln

Dari situ kita bisa menentukan, berapa income minimal setiap bulannya.

 

Dari daftar pengeluaran tersebut, pelajari juga. Berapa banyak yang sifatnya passive spending?

Kurangi passive spending tersebut. Passive spending / expense misalnya: HBO, Netflix, Apple Music Subscription, tagihan listrik, cicilan kartu kredit, dll.

 

INCOME

Di manapun posisi kita di cashflow quadrant sekarang, sebaiknya kita punya berbagai sumber penghasilan.

Baik yang berupa active maupun passive income.

 

Ada banyak cara untuk meningkatkan & membangun passive income maupun active income.

Misalnya buka bisnis dengan yang terbaik.

Membangun nilai tambah dan faktor kali, dll

 

PROCESS

Biasanya orang miskin tidak punya PROCESS.

Dari income, langsung meluncur menuju expense. Alias input langsung output. Sehingga rekening hanya menjadi rumah singgah sementara.

 

Sedangkan orang kaya punya minimal 2 buah proses yang wajib dijalankan setelah uang masuk:

  1. Aset alokasi – bisa pakai envelope budgeting. Setiap pengeluaran sudah dimasukkan ke dalam masing-masing amplop
  2. Compounding – sebagian uang yang masuk akan disuruh untuk bekerja, sehingga menghasilkan lebih banyak income.

 

Continue Reading

cara membuat business blueprint

Lain-Lain - andikamulyana - April 20, 2018

Mungkin pernah mengalami: Biaya meningkat, profit makin sedikit

Coba praktekkan: Ubah business blueprint

 

Dulu, yang namanya bisnis adalah mainan orang-orang bermodal besar. Bila ingin mendirikan hotel yang Service-nya bagus, maka dibuat sebuah gedung yang luar biasa. Lalu dijaga orang-orang luar biasa. Mereka sudah dilatih lewat pelatihan luar biasa.

 

Dengan kata lain, dulu yang namanya bisnis itu butuh 3 hal besar:

Time + Effort + Money

 

 

Butuh money untuk membangun

Butuh effort untuk melatih

Butuh time untuk memastikan semuanya berjalan dengan bagus.

 

 

Namun sekarang dunia berubah total, makin lama dunia sudah semakin berbeda.

Mobil mulai masuk ke era driverless

Hotel mulai masuk ke era tanpa karyawan

Belanja mulai masuk ke era tanpa penjaga toko

 

Semuanya sudah berbeda. Para karyawan sekarang dianggap sebagai beban terbesar.

10 karyawan x 3 juta per bulan x 12 bulan = 360 juta

 

Kalau sebuah usaha dibuka selama 3 tahun, maka dana yang keluar adalah 1,08 milyar.

10 karyawan artinya hanya 3-4 orang per shift. Bukan jumlah yang banyak. Bahkan termasuk sedikit. Itu termasuk usaha kecil.

 

Bagaimana kalau sebuah hotel / restoran punya 40 karyawan? Itu hanya sekitar 8 karyawan per shift (kalau 3 shift) atau 12 karyawan per shift (kalau 2 shift)

 

Coba lihat angkanya.

40 karyawan x 3 juta per bulan x 12 bulan = 1,44 milyar per tahun

Ini totalnya 4,32 milyar untuk 3 tahun

 

 

Mari kita realistis. Apakah dengan adanya 40 karyawan ini bisa menghasilkan 1,44 milyar per tahun?

Apakah mereka bisa mengembalikan modal 4,32 milyar selama 3 tahun?

 

Menurut anda bagaimana?

 

Itu makanya sekarang business design menjadi sangat penting.

1 orang designer system yang hebat bisa menjadi jauh lebih berguna dibandingkan 100 karyawan.

 

 

Kita harus bisa mengubah mindset lama, bahwa yang namanya bisnis harus banyak karyawan.

 

Siapa itu customer? Customer adalah orang yang mempunyai masalah.

 

Apakah kita harus menyelesaikan masalah customer dengan menambah masalah? (beban gaji + keluhan karyawan)

Apakah memungkinkan untuk mengubah sebuah bisnis menjadi sedikit / tidak ada biaya gaji?

 

Bisakah kita menyelesaikan masalah customer tanpa perlu menanggung beban karyawan yang sangat besar?

 

Dulu untuk memulai bisnis perlu time + energy + money.

 

Sekarang, yang jauh lebih dibutuhkan adalah: time + energy + creativity.

 

Kalau seorang karyawan hanya mau melakukan pekerjaan rutin, maka sudah waktunya dia digantikan oleh mesin. Karena di situlah kehebatan mesin, “Rutinitas yang berulang

 

Daripada membayar orang untuk membukakan pintu untuk customer, lebih bagus install pembuka pintu otomatis.

Daripada membayar orang untuk men-check-in-kan  customer di hotel, lebih bagus membuat mesin check in

Daripada membayar orang untuk membersihkan rumah, lebih bagus membuat mesin sapu pel

 

Coba hitung2 cepat. 6 juta per bulan untuk gaji karyawan membukakan pintu, apakah bisa untuk membeli pintu otomatis?

 

 

Nah, saya di sini bukan anti karyawan. Jangan salah paham. Saya mau anda jauh lebih kreatif. Jangan jadi karyawan yg mengerjakan pekerjaan rutin. Jadi karyawan yang kreatif.

 

Bagaimana kalau anda gak bisa membuat mesin sendiri? Gak masalah, anda cuma perlu cukup kreatif untuk mencari google siapa yang jual pintu otomatis.

 

Pengusaha & karyawan sekarang tidak boleh lagi hanya mengandalkan tenaga, harus mengandalkan kreativitas.

 

Berubahlah sebelum dipaksa berubah.

Continue Reading

Rahasia Marketing Starbucks

Lain-Lain - andikamulyana - April 19, 2018

Siapa yang tak kenal dengan Starbucks? Merek yang besar lewat “warung” kopinya ini memang sudah dikenal oleh seantero penjuru dunia. Tapi ternyata, di balik kesuksesan merek berlogo perempuan berambut panjang itu, ada beberapa hal yang menjadi kunci sukses dalam berbisnis bagi mereka.

 

Outlet kopi terbesar dan terpopuler di kalangan masyarakat kota besar di Indonesia, dan hampir di negara maju di seluruh dunia juga memiliki outlet dari Starbucks. Semua ini diawali sejak munculnya sebuah kedai kopi di Seattle pada tahun 1971.

Dengan lebih dari 21.000 outlet di hampir 65 negara, Starbucks adalah salah satu perusahaan Amerika dengan pertumbuhan tercepat. Perusahaan ini menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan, pasalnya dari hanya 425 outlet pada tahun 1994, pada tahun 2013 jumlahnya sudah mencapai 19.767.

 

 

Mungkin anda pernah bertanya, kenapa yah Starbucks sering penuh buka cabang terus, padahal harga minumannya tergolong mahal dibandingkan dengan kompetitornya.

Starbucks tak hanya sukses meracik kopi yang sedap, tetapi juga berhasil membangun komunikasi yang hangat dan intens dengan pelanggannya, Starbucks benar-benar menghayati arti komunikasi dengan pelanggan yang sebenar-benarnya.

 

Jawabannya ada pada strategi marketing mereka dimana Starbucks memiliki strategi Marketing Gerilya ( Guerilla Marketing ) marketing dan Pull Marketing yang sangat baik.  Perhatikan bagaimana starbucks memberikan penawaran-penawaran khusus untuk pengguna kartu kredit tertentu untuk free upsize. Dimana sasaran marketing itu tepat  kepada target market mereka,

 

Perhatikan juga bagaimana mereka melakukan merchandising. Salah satunya pada Tumbler mereka dimana yang pertama Starbucks memposisikan Tumbler sebagai collectibles atau barang koleksi. Anda bisa mengoleksi Tumbler Starbucks dari seluruh dunia dan strategi ini juga berhasil digunakan oleh Hard Rock.

 

Yang kedua, Tumbler berfungsi sebagai subscribing tools, atau alat berlangganan. Hal ini adalah hal yang cerdas. Dimana selain berfungsi sebagai branding ketika botol itu dibawa kemana-mana oleh konsumennya dan dilihat lagi oleh banyak orang, konsumen pun mendapatkan penawaran khusus setiap melakukan pembelian dengan Tumbler dan secara otomatis konsumen akan menjadi pelanggan tetap.

 

Ada banyak lagi strategi-strategi semacam ini yang begitu brilian yang bisa anda terapkan kepada bisnis anda, atau sebagai tambahan pengetahuan dalam sebuah event yang dibawakan oleh David Gan, salah satu konsultan marketing yang berpengalaman merancang strategi marketing mulai dari perusahaan kecil hingga perusahaan yang bernilai jutaan dollar.

Continue Reading

bagaimana Input Process Output yang baik

Lain-Lain - andikamulyana - April 19, 2018

Beberapa hari ini saya sempat berpikir ..

 

Saat saya mau membantu memperbaiki suatu usaha , saya mesti tau, apa sebenarnya masalahnya. Kalau sudah ketemu masalahnya, saya mesti bisa memilah-milah masalah itu.

 

Saat masalah bisa dipilah, maka mengatasinya lebih gampang. Karena kita tidak merasa memperbaiki sebuah kerusahakan besar. Namun hanya sebagian kerusakan-kerusakan kecil.

 

Misalnya, seorang murid mau memasak kue. Dia yakin bahwa dia bisa memasak kue bolu yang enak.

Namun saat kue dihidangkan, bentuknya hancur-hancuran, rasanya tidak enak pula. Masalahnya, salahnya di mana?

 

Apakah teknik mengaduk, setelan oven, bahannya busuk atau di mana?

 

Maka saya akan membagi proses ini menjadi 3 bagian:

Input – Process – Output

 

Input

Apa saja yang ada di dalam input?

Pertama, pastikan bahwa resepnya memang paten. Kalau resepnya saja sudah salah, bagaimana mau enak? Lalu pastikan juga bahwa bahannya tepat dan masih fresh.

 

Process

Perhatikan langkah per langkah yang dilakukan. Apakah dia sudah tepat sesuai resep?

Cara mengaduknya tepat? Lama mengaduknya tepat?

Cara memanggangnya tepat? Suhunya pas?

 

Output

Apakah cara dia memindahkan dari loyang ke piring sudah pas?

Apakah kue diletakkan di tempat yang tepat?

Apakah kue tertutup atau bisa diganggu oleh kucing?

Apakah kue bisa terkena tumpahan air?

 

 

Saat ketiga proses ini diperhatikan, tiba-tiba jadi troubleshooting jadi lebih gampang.

 

Karena saat seorang client mempunyai bisnis, dia sering kali yakin bisa menghasilkan produk bagus yang laris manis.

 

Namun kenyataannya kan gak begitu. Sering kali produknya gak bagus, atau bisa jadi produknya bagus, namun gak laris manis.

 

Di mana salahnya?

 

Berdasarkan yang dijual, saya membedakan bisnis menjadi 2 kategori:

+ Produk

+ Jasa

 

Mungkin bagi anda ini pelajaran simpel banget. Siapa sih yang gak bisa membedakan sebuah industri itu jasa atau produk?

 

Coba jawab pertanyaan di bawah ini, apakah bisnis di bawah ini termasuk produk / jasa:

+ Hotel

+ Pijat

+ Restoran

+ XXI (bioskop)

+ Netflix

+ Pariwisata ke pantai

+ Bengkel reparasi

 

Terkesan remeh-temeh kan?

 

Namun coba cocokkan jawaban anda dengan saya. Bagi saya inilah kategori bagi masing-masing industri ini:

+ Hotel: produk

+ Pijat: jasa

+ Restoran: produk

+ XXI (bioskop): produk

+ Netflix: produk

+ Pariwisata ke pantai: produk

+ Bengkel reparasi: jasa

 

 

Maka saya membedakan prosesnya seperti berikut:

Produk

Input: barang mentah

Proses: added value (dimasak, dipindahkan, dirapikan, disusun, dll)

Output: barang + value

 

Jasa

Input: barang / keadaan yang rusak

Proses: diperbaiki

Output: barang / keadaan lebih baik

 

Kenapa saya memasukkan pantai ke dalam produk? Karena memang di pantai yang kita nikmati adalah produknya, yaitu pantainya!!

 

Kecuali kalau anda dapat pijatan di pantai. Tentu itu jadi berbeda.

 

Kenapa hotel saya masukkan ke produk? Karena yang anda nikmati memang produknya. Kamarnya, TV-nya, kamar mandinya, sofanya, breakfast-nya. Di sini peran langsung karyawan jadi makin sedikit.

 

Kalau sifatnya produk, tentu saja makin lama makin gampang direplikasi. Karena yang namanya produk, biasanya dihidangkan kembali dalam keadaan yang sama / standard.

 

Dulu merapikan kamar hotel itu lama. Sekarang menurut anda berapa lama waktu yang diperlukan untuk membersihkan kamar hotel Amaris? Mungkin suatu hari nanti, kamar itu tidak perlu lagi dirapikan manusia.

 

Restoran juga begitu. Yang dihidangkan adalah produk yang sama. Kalau sudah begitu, suatu hari nanti kenapa harus bergantung pada koki yang gajinya mahal? Coba lihat kedai ‘Fried Chicken’ yang ada di mana-mana. Apakah mereka butuh koki?

 

Apakah McD, KFC, Pizza Hut butuh koki? Mereka cuma butuh karyawan. Tentu saja lama kelamaan, proses replikasinya akan semakin murah.

 

Asal input, process, output-nya teridentifikasi dengan baik, lama-kelamaan otomatisasi proses jadi jauh lebih gampang. Anda setuju?

Continue Reading